Monday, June 29, 2020

Bersabar dan Bersyukur Saja


Alangkah mengagumkan keadan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika ia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.
(HSR. Muslim, no. 2999)


Sabar dan syukur, dua kata yang sangat akrab dalam hidup kita, terutama bagi umat Islam. Seringkali kita diingatkan untuk bersabar manakala kita dalam keadaan sedih atau sedang tertimpa musibah. Pun dengan syukur. Ucapan ‘alhamdulillah’ akan terucap dari bibir kita atau dalam hati kita manakala kita mendapatkan atau merasakan nikmat.

Sepertinya mudah untuk sekedar mengucapkan, tapi pada kenyataannya, berperilaku sabar dan syukur itu tidak gampang. Mungkin pada suatu waktu, kita bisa melakukannya, tapi di waktu yang lain, kita tak jarang ‘lupa’ untuk bersabar atau bersyukur.

Di dalam agama Islam, perilaku sabar dan syukur adalah pekerjaan yang mendatangkan kebaikan bagi orang yang melakukannya. Sebagai orang yang beriman, kita harus meyakini hal tersebut. Sehingga kita harus sekuat tenaga mengupayakan untuk bisa selalu bersabar serta bersyukur.

Seperti sifat yang lain, rasa sabar dan syukur itu harus sering kita ‘latih’, agar kita mendapat kebaikan dan kemanfaatan yang ada padanya. Hanya dengan sabar dan syukur saja, maka kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan lebih kuat.

---ooo---

Sabar sendiri dalam arti yang lebih luas, tidak sama dengan diam saja. Kebanyakan orang mengira bahwa sabar itu diam. Seperti jika ada kejadian yang tak mengenakkan pada kita, lalu kita diam saja atau memendam rasa marah, maka itu bukan sabar melainkan tak berdaya.

Sabar adalah sebuah usaha pada diri kita untuk membangun sikap atau perilaku dan perasaan atau pemikiran positif terhadap kejadian yang kita alami. Ketika kita mengalami hal yang tak mengenakkan dan kita berusaha untuk membangun sikap positif atau perasaan positif dalam diri kita, maka itulah sabar.

Misalnya, pada saat kita mendapati nilai hasil ujian semesteran kita, ternyata tidak sesuai seperti yang kita harapkan. Ketika kita berusaha untuk menerima dan berpikiran untuk memperbaiki lagi pada ujian yang akan datang, maka itu adalah sabar.

---ooo---

Begitu juga dengan rasa syukur yang sering kali terlupa. Sabar dan syukur adalah dua hal yang sepertinya tidak bisa dipisahkan. Bersyukur adalah sebuah cara untuk bersabar. Juga berlaku sebaliknya, bersabar adalah cara kita bersyukur. Orang yang sabar, pasti bersyukur. Demikian juga orang yang bersyukur, pasti bersabar.

Ketika kita bersyukur dengan apa yang kita miliki, artinya kita bersabar dengan semua yang belum kita punyai. Bersyukur adalah salah satu usaha untuk menemukan kenikmatan dari apa yang sudah terjadi atau apa yang sedang kita miliki. Tidak hanya sampai menemukannya, tapi juga kita berusah untuk memelihara kenikmatan tersebut.

Contohnya, pada saaat kita menemukan kenikmatan pada makanan yang kita punya. Kemudian kita berusaha untuk mempertahankan kenikmatan yang kita dapat dari makanan itu, maka ini adalah syukur.

Bersyukur juga tidak hanya sekedar mengucapkan alhamdulillah atau berkata ‘terima kasih’ saja pada seseorang. Setelah berucap, kita juga harus menerangkan atau mengatakan seperti apa hal yang membuat kita berterima kasih. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau telah memberi mata yang bisa melihat indahnya alam ini. Terima kasih ya teman, kamu mau mendengarkan curahan hatiku ini.

---ooo---

Apabila manusia mampu untuk bersabar dan bersyukur, maka akan membawa kebaikan pada jiwanya. Jiwanya menjadi lebih tenang dan lebih siap menghadapi dunia. Seseorang yang mampu membangun hal positif dalam dirinya dan mampu menikmati apa yang ada padanya pada saat ini, maka insya Allah, ia adalah manusia yang sehat jiwanya.

Manusia yang secara mental atau jiwa bisa dianggap sehat adalah mereka yang bisa untuk memunculkan sikap sabar dan syukur pada kejadian atau situasi apapun yang menimpanya. Pada saat terkena musibah, ia bersabar menghadapinya, bahkan ia bisa bersyukur dengan tidak mengalami hal-hal yang lebih buruk yang sebenarnya bisa menimpanya.

Di akhir catatan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk kembali memperbaiki terus dan melatih kesabaran dan kesyukuran kita. Dua hal yang akan membawa pada banyak kebaikan. Tidak hanya kebaikan dan kemanfaatan di dunia, tapi juga memberi pahala yang banyak di akhirat.

Dan sebagai orang yang beragama Islam, menjadi sabar dan syukur adalah sebuah ‘perintah’ agama yang harus kita upayakan semaksimal mungkin. Menjadikannya sebuah ibadah yang tidak perlu alasan lain apapun selain untuk taat pada-Nya.

Jangan lupa, bahwa sabar dan syukur adalah salah dua dari Nama dan Sifat-Nya. Mintalah untuk diberikan dan ditetapkan hati-hati kita pada dua hal tadi dengan doa yang tiada putus. Karena semua adalah dimudahkan untuk kita miliki adalah dengan izin-Nya jua.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatunya.

Denpasar, 29 Juni 2020



Friday, June 26, 2020

Fokus Saja pada Diri


Beberapa bulan belakangan ini, sungguh waktu yang tak mudah untuk kita semua. Bahkan tidak hanya di negara kita tercinta, tapi hampir di seluruh negara yang ada di bumi ini. Setiap negara berjuang untuk mengatasi serangan virus berbahaya ini. Tak sedikit korban berjatuhan, membuat semua serentak berjuang untuk meredakan serangan virus bernama Covid-19 ini.

Penyebarannya yang cepat ke semua penjuru bumi, membuatnya menjadi sebuah pandemi yang sangat menghantui umat manusia. Semua negara dengan serentak berusah untuk menahan penyebarannya. Segala cara diupayakan untuk itu. Mulai dari mencari obat atau vaksinnya sampai menngunci manusia untuk berdiam di tempatnya masing-masing.

Dampak dari pandemi ini pun tak sedikit. Salah satunya yang berat adalah pada perekonomian. Kebijakan ‘lockdown’ yang diterapkan hampir pada semua negara, membuat gerak roda ekonomi ikut tersendat berputar. Banyak sektor usaha menengah dan kecil terpaksa menutup usahanya. Akibatnya banyak pula pengangguran yang bermunculan.

Perusahaan besar yang bergerak di sektor usaha pariwisata adalah salah satu yang terdampak cukup berat. Lockdown membuat orang dilarang bepergian dahulu. Bisa terbayangkan, usaha apa saja yang harus ditutup akibat ini. Bertambah pula orang tak bekerja karena di-putus hubungan kerjanya. Sungguh memprihatinkan!

---ooo---

Dengan keadaaan yang tak menentu ini, manusia berusaha dengan segala yang ada untuk dapat tetap hidup. Mungkin, bagi sebagian orang yang masih bekerja dan mempunyai gaji bulanan, hal ini tak banyak membawa pengaruh secara ekonomi. Tapi bagaimana dengan mereka yang bekerja dan mengais rezeki dari pekerjaan harian? Sudah tentu tak ada yang dapat menopang hidup mereka dari hari ke hari lagi.

Keadaan seperti ini membuat kita banyak membuka mata hati. Menolong mereka yang membutuhkan telah menjadi bagian dari hidup kita saat ini. Sebisa kita, semampu kita, meskipun kita sendiri tidak tahu sampai kapan kita bisa bertahan secara ekonomi jika seperti ini.

Kini, hampir kurang lebih empat bulan, kita berada dalam situasi ‘tak biasa’ ini. Kita pun menyadari sepenuhnya, situasi ini akan berlangsung tak sebentar. Bahkan kita tidak mengetahui sampai kapan.
Pada masa sebulan, dua bulan pertama, masih banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan untuk ‘membunuh’ waktu. Tapi perlahan dan pasti, saat ini hal itu sudah mulai berubah menjadi waktu-waktu yang membosankan dan membuat stres.

Meskipun keluar rumah untuk sebuah keperluan yang penting saja sudah dibolehkan, tapi rasanya sudah berbeda, tidak seleluasa dulu lagi. Rumah makan dan kafe-kafe ada beberapa yang buka, tapi dengan kondisi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Mall-mall pun demikian.

Banyak sekali hal-hal yang berubah dari hidup kita. Sebagai manusia, rasanya wajar apabila kita merasa tak begitu nyaman dengan segala perubahan yang ada, apalagi yang disebabkan karena pandemi saat ini. Tak bisa berbuat banyak hal yang menyenangkan seperti sebelum masa pandemi ini.
Sebagai manusia pula, maka kita harus berusaha untuk bertahan. Tidak hanya bertahan untuk dapat menjaga agar tetap sehat raga, tapi juga menjaga agar jiwa ini tetap waras. Perubahan demi perubahan harus dihadapi, mau tidak mau, suka tidak suka. Tidak ada pilihan lain jika keberlangsungan hidup adalah tujuan seluruh manusia di muka bumi ini.

Benar, takdir adalah takdir. Tapi kita hidup dengan ikhtiar, dengan usaha yang sungguh-sungguh. Karena hanya usaha manusia yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di negeri akhirat. Bukan yang lain yang di luar kuasa kita.

Salah satu usaha kita bertahan dan menjaga agar sehat lahir dan juga batin adalah tetap berfokus pada diri kita. Ketika kita dapat menjadikan diri sendiri menjadi sebuah pribadi yang baik, sehat, dan positif, maka paling tidak, kita akan lebih kuat menghadapi dunia, insya Allah.

Fokus pada diri kita tidak sama dengan bersikap egois. Bersikap egois adalah membuat kepentingan-kepentingannya hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan fokus pada diri sebenarnya adalah menjaga diri kita sendiri untuk tetap bersikap terbaik, meskipun orang-orang di sekitar kita tidak. Meskipun dunia gonjang-ganjing dengan kebiasaan-kebiasaan yang tak biasanya lagi. Tetaplah fokus pada diri kita!

---ooo---

Tentu saja bukan hal yang semudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Tapi paling tidak, tetapkanlah menjadi sebuah tujuan, untuk tetap berfokus pada diri sendiri. Pada situasi seperti ini, banyak orang yang mulai dihinggapi perasaan bosan dan tertekan. Tak pelak diri kita ini. Maka, lihatlah diri ini. Perbaiki diri dengan lebih memperdalam dan memperbanyak ibadah kita. Perbaiki diri dengan lebih banyak belajar dan mencari tahu hal positif apa yang bisa membuat diri kita lebih baik dalam mengisi waktu.

Dengan ibadah, maka paling tidak hati kita jauh lebih tenang, karena kita menyandarkan segalanya pada sang pemilik hidup. Dengan belajar, maka tak ada waktu lagi untuk menjadi merasa bosan dan tertekan, insya Allah. Dengan berfokus pada diri, dunia akan semakin mudah kita kendalikan, kita hadapi!Semoga, aamiin.

Denpasar, 26 Juni 2020


Wednesday, June 24, 2020

Rasa yang Membantu Bertumbuh


Perjalanan hidup manusia tidak selalu mulus seperti sebuah jalan tol. Manusia akan banyak menghadapi berbagai macam rintangan. Akibatnya, manusia pun akan banyak mengalami perasaan yang tak mengenakkan dalam hidup. Rasa sakit, sedih, kecewa dan semacamnya akan kita alami.
Manusia tidak akan mengalami rasa senang atau bahagia yang terus menerus. Hidup tidak melulu tentang kebahagiaan. Walaupun itu adalah salah satu tujuan kita, menjadi bahagia. Ada kalanya kebahagiaan menjadi titik pencapaian kita, tapi ia akan segera turun dan berganti dengan rasa yang lain. Ketika rasa bahagia itu hilang, maka kita akan berjuang kembali untuk menggapai kebahagiaan di titik selanjutnya.

Pada saat kita berada pada rasa bahagia, maka semuanya akan tampak mudah dan menyenangkan. Kita akan merasa bersemangat dan penuh dengan energi dalam menjalani kehidupan. Tapi bagaimana ketika keadaan menjadi sebaliknya? Saat penderitaan datang menghampiri dan masuk ke dalam hidup kita? Maka perasaan apa yang berkecamuk dalam dada kita? Rasa sedih yang mendalam!
Seperti halnya rasa sedih, sekali waktu, kita pun akan mengalami rasa-rasa semacamnya. Sakit hati, kecewa, marah, kesal, dan lain sebagainya. Mereka akan menghampiri kita, paling tidak sekali waktu dalam kehidupan kita.

Lalu bagaimana kita dapat mengatasinya? Membuat semua perasaan-perasaan tadi berganti dan berlalu. Tentu saja, setiap manusia tak hendak berlam-lama berada dalam rasa yang tak menyenangkan itu. Tapi bisakah kita bergerak dan berpindah kepada rasa bahagia?

Ya, bisa. Semua bisa saja berubah, tapi kita tidak pernah tahu secepat apa. Setiap orang mempunyai waktunya masing-masing. Setiap orang mempunyai tindakan dan caranya masing-masing untuk bangkit kembali. Bangkit dari rasa sakit dan keterpurukan, menjadi rasa bahagia kembali.

Satu hal yang sering terlewati adalah bahwa manusia ternyata dapat bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, karena rasa sakit itu. Ya, ia akan menjadi pribadi yang berbeda, yang lebih mengenal dirinya, dari sebelum rasa sakit itu ada. Bahkan manusia dapat menjadi lebih ‘mudah’ bahagia karena telah mengenal rasa sakit itu.

---ooo---

Lalu bagaimana caranya kita dapat menjadi manusia yang lebih baik setelah merasakan rasa sakit itu? Yang pertama harus kita lakukan adalah, tentu saja, mengenal terlebih dahulu perasaan atau emosi yang muncul dalam hati kita. Mengapa perasaan itu bisa ada dalam hati kita. Kenali dan gali terus sampai kita menemukan akar permasalahannya.

Hal yang tak mudah, tapi kita bisa melakukannya. Perasaan itu ada di dalam diri kita, jadi kita sendiri pula yang tahu perasaan macam apa yang kita alami. Misalnya ketika kita merasa sedih karena sebuah keinginan kita yang tidak berhasil kita capai.  Apakah benar kita sedih karena perbuatan kita atau sedih karena dampaknya pada kita? Cobalah kita gali terus sampai pada titik dimana kita mengetahui dan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita.

Kemudian yang kedua, cobalah untuk bisa mengambil pelajaran darinya. Hal apa yang bisa kita perbaiki dari situasi tersebut. Seperti contoh di atas, mungkin memang usaha kita yang tak terlalu keras atau mungkin kita memang harus mengulang kembali dari awal agar dapat berhasil. Ambil hikmah dan pelajaran dari rasa terpuruk itu. Yakin pada diri sendiri bahwa hal itu adalah yang terbaik yang terjadi pada diri kita.

Ketika kita yakin akan hal tersebut, maka kita akan mendapatkan kekuatan dari dalam diri untuk bergerak dan bangkit. Berpikir positif pada semua kejadian baik dan buruk yang terjadi pada kita. Berpikir positif akan membantu kita untuk menerima perasaan-perasaan tersebut dengan lebih lapang.

Persiapkan hati kita untuk memperoleh kembali kekuatan. Paling tidak yakinlah bahwa ada hikmah dari setiap kejadian. Kumpulkan kekuatan itu, mantapkan hati kita untuk kembali dari emosi yang negatif.

Akhirnya yang ketiga adalah menyelesaikan masalah yang membuat kita sakit atau sedih tadi. Bergerak dan berubah. Lakukan hal-hal yang diperlukan untuk mengatasi dan menyelesaikannya. Ambil tindakan-tindakan yang membawa kita pada kebaikan yang tak ada sebelumnya. Bergerak, eksekusi!

Dengan keyakinan dan kekuatan yang sudah kita kumpulkan sebelumnya, maka bergerak untuk mengubah keadaan menjadi lebih mudah dilaksanakan. Bangkit untuk melakukan aksi nyata yang berbeda agar bisa lebih baik dari sebelumnya.

---ooo---

Ketika ketiga hal tersebut kita lakukan, maka sesungguhnya kita sedang bertumbuh. Bertumbuh menjadi manusia yang berbeda, manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Karena kita secara sadar dapat merefleksikan diri kita sendiri, dari seseorang yang jatuh terpuruk, menjadi seseorang yang lebih mengenali diri.

Mengenali diri sendiri adalah salah satu sumber kekuatan kita untuk bergerak maju. Bergerak dengan berbeda agar tidak terulang atau menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kita dapat belajar dari rasa sakit dan semua rasa tak nyaman yang terjadi dalam hidup kita, sehingga menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya. Maka terimalah rasa-rasa itu.

Denpasar, 24 Juni 2020

Monday, June 22, 2020

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Bukan Pilihan


Awal mula seorang perempuan adalah anak. Ketika ada seorang lelaki yang menikahinya, maka bertambahlah sebuah tugas hidupnya, menjadi seorang istri. Sampai suatu ketika seorang anak lahir darinya, bertambah lagi tugasnya menjadi seorang ibu. Menjadi anak, istri, sekaligus ibu adalah tugas mulia dan utama dari seorang perempuan.

Seorang perempuan yang bekerja dan berprofesi pun tak menghilangkan tugasnya sebagi seorang istri dan ibu. Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah tugas alamiah (sunnatullah) dari seorang perempuan. Tak peduli siapapun dia atau apapun pekerjaannya. Ia adalah sebuah kewajiban, bukan lagi sebuah pilihan.

Ibu rumah tangga telah menjadi sebuah profesi tak bergaji. Diperlukan tak sedikit ketrampilan dan kepandaian dalam melakukannya. Keberlangsungan sebuah keluarga, sedikit banyak sangat tergantung pada kepiawaian seorang ibu rumah tangga mengelolanya.

Sebegitu penting dan mulianya tugas itu, maka penting bagi anak perempuan untuk mendapat pendidikan. Pendidikan yang akan memberinya ruang dan waktu untuk bertumbuh menjadi perempuan yang siap menjalankan tugas besar dan mulianya.

Pendidikan yang paling tidak memberinya kesempatan seluas-luasnya untuk belajar. Belajar banyak hal, meskipun tidak harus dalam bentuk pendidikan formal di dalam gedung dan berserifikat. Tidak harus.

Pendidikan itu penting bagi perempuan karena akan memberi semacam bekal baginya kelak untuk menjalankan tugasnya sebagi istri dan ibu. Mungkin bukan bekal keilmuan, tapi yang terpenting adalah bekal ‘kesiapan’nya dalam menghadapi tugas kehidupan ke depannya.

-o-

Pada kenyataannya, menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga di zaman sekarang, bukanlah hal yang mudah. Terutama sebagi ibu. Berbagai macam permasalahan akan menghadang. Tak hanya masalah di luar rumah yang memang sudah cukup membuat kita waspada. Masalah seringnya justru muncul di dalam rumah tangga itu sendiri.

Mendidik anak tak cuma masalah membesarkan dan menjadikannya sehat. Mendidik adalah sebuah proses nan tak henti yang dilakukan oleh seorang ibu pada anak-anaknya. Mendidik adalah proses yang dilakukan oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang dinamis. Proses yang dilakukan dari manusia ke manusia. Ibu adalah seorang manusia, pun anak.

Hal itu akan memicu banyak terjadi konflik, yang bahkan kita tidak pernah duga sebelumnya. Aksi dan reaksi yang tak sesuai teori, dapat memancing beragam emosi yang kadang tak terkendali.
Begitu juga menjadi seorang istri. Tak pernah ada cerita yang mudah dalam membina sebuah rumah tangga. Ia adalah proses yang berjalan naik dan turun. Bahkan hingga akhir cerita nanti.

Ada yang berlanjut baik-baik saja sampai akhir, tapi tak sedikit yang berhenti di tengah jalan. Banyak dan beragam penyebabnya. Ada yang terukur dan ada yang tidak. Ada yang masih dalam kendali manusia dan ada yang tidak.

Seperti itulah kenyataannya. Tak ada yang dijalankan dengan mudah. Kita hanya manusia-manusia yang terus bergerak, menciptakan usaha. Manusia yang tak ingin berhenti di tengah jalan begitu saja. Manusia yang berusaha, berikhtiar untuk dapt menyelesaikan tugas-tugas kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Menjadi istri dan ibu bisa sungguh menyenangkan, tapi sekaligus kadang membuat kita sedikit “lelah”. Pekerjaan yang melekat 24 jam dalam setiap hari kehidupan seorang perempuan. Berhubungan dengan suami dan anak adalah pekerjaan tak berbatas, yang tak selalu “baik-baik saja”.

Berbeda dengan pekerjaan seperti di kantor-kantor. Ketika kita tak mampu lagi, maka keluar dari pekerjaan adalah pilihan yang bisa dilakukan. Rumah tangga tak bisa semudah itu. Walaupun ada pilihan untuk itu.

                                                                               -o-

Untuk itu, kita harus sering memperbaharui niat kita. Agar rumah tangga dapat terus berjalan sampai akhir nanti. Niat ketika pertama kali kita melangkahkan kaki untuk menikah. Semua bermula dari niat tersebut. Ketika pada pertengahan jalan ada yang tak sesuai, maka segera kembali dan perbaharui niat kita.

Tak hanya niat, semua perjalanan hidup sejatinya bersandar pada dua hal, yaitu bersyukur dan bersabar. Demikian pula dalam rumah tangga. Belajar untuk bisa selalu bersyukur dan bisa bersabar harus selalu ditumbuhkan.

Banyak-banyak bersyukur dengan segala kebaikan dan ‘ketidakbaikkan’ yang kita dapatkan. Bersyukur dapat membawa kita pada kebahagiaan-kebahagiaan hati yang kadang tak terlihat kasat mata. Tapi sekali lagi, ini bukan hal yang mudah, sehingga kita memang harus belajar untuk membiasakannya.

Bersabar ternyata lebih sulit daripada bersyukur. Karena biasanya bersabar berhubungan dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Hal-hal yang yang ingin kita hindari dan jauhi. Tapi berusalah untuk bersabar dan yang terpenting adalah berdoa. Berdoa memohon diberi kesabaran, karena hanya Allah pemilik sabar.

Pada akhirnya, perempuan sebagai ibu rumah tangga harus menjadi seorang perempuan yang berilmu, berpendidikan. Tak hanya berhenti ketika ia menikah. Belajar adalah pekerjaan seumur hidup. Ia harus tetap belajar dan belajar agar menjadi jalan kemudahan dalam menjalani tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga.

Tak ada balasan terbaik dari menjadi ibu rumah tangga selain balasan pahala dari Allah Swt. Tetap semangat menjadi seorang ibu rumah tangga!


Denpasar, 22 Juni 2020

Bersabar dan Bersyukur Saja

Alangkah mengagumkan keadan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang...