Alangkah mengagumkan keadan orang yang beriman, karena
semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada
seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka itu adalah
kebaikan baginya, dan jika ia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu
adalah kebaikan baginya.
(HSR. Muslim, no. 2999)
Sabar dan syukur, dua kata yang sangat akrab dalam hidup kita, terutama
bagi umat Islam. Seringkali kita diingatkan untuk bersabar manakala kita dalam
keadaan sedih atau sedang tertimpa musibah. Pun dengan syukur. Ucapan
‘alhamdulillah’ akan terucap dari bibir kita atau dalam hati kita manakala kita
mendapatkan atau merasakan nikmat.
Sepertinya mudah untuk sekedar mengucapkan, tapi pada kenyataannya,
berperilaku sabar dan syukur itu tidak gampang. Mungkin pada suatu waktu, kita
bisa melakukannya, tapi di waktu yang lain, kita tak jarang ‘lupa’ untuk
bersabar atau bersyukur.
Di dalam agama Islam, perilaku sabar dan syukur adalah pekerjaan yang
mendatangkan kebaikan bagi orang yang melakukannya. Sebagai orang yang beriman,
kita harus meyakini hal tersebut. Sehingga kita harus sekuat tenaga
mengupayakan untuk bisa selalu bersabar serta bersyukur.
Seperti sifat yang lain, rasa sabar dan syukur itu harus sering kita
‘latih’, agar kita mendapat kebaikan dan kemanfaatan yang ada padanya. Hanya
dengan sabar dan syukur saja, maka kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini
dengan lebih kuat.
---ooo---
Sabar sendiri dalam arti yang lebih luas, tidak sama dengan diam saja.
Kebanyakan orang mengira bahwa sabar itu diam. Seperti jika ada kejadian yang
tak mengenakkan pada kita, lalu kita diam saja atau memendam rasa marah, maka
itu bukan sabar melainkan tak berdaya.
Sabar adalah sebuah usaha pada diri kita untuk membangun sikap atau
perilaku dan perasaan atau pemikiran positif terhadap kejadian yang kita alami.
Ketika kita mengalami hal yang tak mengenakkan dan kita berusaha untuk
membangun sikap positif atau perasaan positif dalam diri kita, maka itulah
sabar.
Misalnya, pada saat kita mendapati nilai hasil ujian semesteran kita,
ternyata tidak sesuai seperti yang kita harapkan. Ketika kita berusaha untuk
menerima dan berpikiran untuk memperbaiki lagi pada ujian yang akan datang,
maka itu adalah sabar.
---ooo---
Begitu juga dengan rasa syukur yang sering kali terlupa. Sabar dan
syukur adalah dua hal yang sepertinya tidak bisa dipisahkan. Bersyukur adalah
sebuah cara untuk bersabar. Juga berlaku sebaliknya, bersabar adalah cara kita
bersyukur. Orang yang sabar, pasti bersyukur. Demikian juga orang yang
bersyukur, pasti bersabar.
Ketika kita bersyukur dengan apa yang kita miliki, artinya kita bersabar
dengan semua yang belum kita punyai. Bersyukur adalah salah satu usaha untuk
menemukan kenikmatan dari apa yang sudah terjadi atau apa yang sedang kita
miliki. Tidak hanya sampai menemukannya, tapi juga kita berusah untuk
memelihara kenikmatan tersebut.
Contohnya, pada saaat kita menemukan kenikmatan pada makanan yang kita
punya. Kemudian kita berusaha untuk mempertahankan kenikmatan yang kita dapat
dari makanan itu, maka ini adalah syukur.
Bersyukur juga tidak hanya sekedar mengucapkan alhamdulillah atau
berkata ‘terima kasih’ saja pada seseorang. Setelah berucap, kita juga harus
menerangkan atau mengatakan seperti apa hal yang membuat kita berterima kasih.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau telah memberi mata yang bisa
melihat indahnya alam ini. Terima kasih ya teman, kamu mau mendengarkan curahan
hatiku ini.
---ooo---
Apabila manusia mampu untuk bersabar dan bersyukur, maka akan membawa
kebaikan pada jiwanya. Jiwanya menjadi lebih tenang dan lebih siap menghadapi
dunia. Seseorang yang mampu membangun hal positif dalam dirinya dan mampu
menikmati apa yang ada padanya pada saat ini, maka insya Allah, ia adalah
manusia yang sehat jiwanya.
Manusia yang secara mental atau jiwa bisa dianggap sehat adalah mereka
yang bisa untuk memunculkan sikap sabar dan syukur pada kejadian atau situasi
apapun yang menimpanya. Pada saat terkena musibah, ia bersabar menghadapinya,
bahkan ia bisa bersyukur dengan tidak mengalami hal-hal yang lebih buruk yang
sebenarnya bisa menimpanya.
Di akhir catatan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk kembali memperbaiki
terus dan melatih kesabaran dan kesyukuran kita. Dua hal yang akan membawa pada
banyak kebaikan. Tidak hanya kebaikan dan kemanfaatan di dunia, tapi juga
memberi pahala yang banyak di akhirat.
Dan sebagai orang yang beragama Islam, menjadi sabar dan syukur adalah
sebuah ‘perintah’ agama yang harus kita upayakan semaksimal mungkin.
Menjadikannya sebuah ibadah yang tidak perlu alasan lain apapun selain untuk
taat pada-Nya.
Jangan lupa, bahwa sabar dan syukur adalah salah dua dari Nama dan
Sifat-Nya. Mintalah untuk diberikan dan ditetapkan hati-hati kita pada dua hal
tadi dengan doa yang tiada putus. Karena semua adalah dimudahkan untuk kita
miliki adalah dengan izin-Nya jua.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatunya.
Denpasar, 29 Juni 2020
Comments
Post a Comment