Awal mula seorang perempuan adalah anak. Ketika ada seorang lelaki yang
menikahinya, maka bertambahlah sebuah tugas hidupnya, menjadi seorang istri.
Sampai suatu ketika seorang anak lahir darinya, bertambah lagi tugasnya menjadi
seorang ibu. Menjadi anak, istri, sekaligus ibu adalah tugas mulia dan utama
dari seorang perempuan.
Seorang perempuan yang bekerja dan berprofesi pun tak menghilangkan
tugasnya sebagi seorang istri dan ibu. Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah
tugas alamiah (sunnatullah) dari seorang perempuan. Tak peduli siapapun dia
atau apapun pekerjaannya. Ia adalah sebuah kewajiban, bukan lagi sebuah
pilihan.
Ibu rumah tangga telah menjadi sebuah profesi tak bergaji. Diperlukan tak
sedikit ketrampilan dan kepandaian dalam melakukannya. Keberlangsungan sebuah
keluarga, sedikit banyak sangat tergantung pada kepiawaian seorang ibu rumah
tangga mengelolanya.
Sebegitu penting dan mulianya tugas itu, maka penting bagi anak perempuan
untuk mendapat pendidikan. Pendidikan yang akan memberinya ruang dan waktu
untuk bertumbuh menjadi perempuan yang siap menjalankan tugas besar dan
mulianya.
Pendidikan yang paling tidak memberinya kesempatan seluas-luasnya untuk
belajar. Belajar banyak hal, meskipun tidak harus dalam bentuk pendidikan formal
di dalam gedung dan berserifikat. Tidak harus.
Pendidikan itu penting bagi perempuan karena akan memberi semacam bekal
baginya kelak untuk menjalankan tugasnya sebagi istri dan ibu. Mungkin bukan bekal
keilmuan, tapi yang terpenting adalah bekal ‘kesiapan’nya dalam menghadapi
tugas kehidupan ke depannya.
Pada kenyataannya, menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga di zaman
sekarang, bukanlah hal yang mudah. Terutama sebagi ibu. Berbagai macam permasalahan
akan menghadang. Tak hanya masalah di luar rumah yang memang sudah cukup
membuat kita waspada. Masalah seringnya justru muncul di dalam rumah tangga itu
sendiri.
Mendidik anak tak cuma masalah membesarkan dan menjadikannya sehat. Mendidik
adalah sebuah proses nan tak henti yang dilakukan oleh seorang ibu pada anak-anaknya.
Mendidik adalah proses yang dilakukan oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang
dinamis. Proses yang dilakukan dari manusia ke manusia. Ibu adalah seorang
manusia, pun anak.
Hal itu akan memicu banyak terjadi konflik, yang bahkan kita tidak
pernah duga sebelumnya. Aksi dan reaksi yang tak sesuai teori, dapat memancing
beragam emosi yang kadang tak terkendali.
Begitu juga menjadi seorang istri. Tak pernah ada cerita yang mudah
dalam membina sebuah rumah tangga. Ia adalah proses yang berjalan naik dan
turun. Bahkan hingga akhir cerita nanti.
Ada yang berlanjut baik-baik saja sampai akhir, tapi tak sedikit yang
berhenti di tengah jalan. Banyak dan beragam penyebabnya. Ada yang terukur dan
ada yang tidak. Ada yang masih dalam kendali manusia dan ada yang tidak.
Seperti itulah kenyataannya. Tak ada yang dijalankan dengan mudah. Kita hanya
manusia-manusia yang terus bergerak, menciptakan usaha. Manusia yang tak ingin
berhenti di tengah jalan begitu saja. Manusia yang berusaha, berikhtiar untuk
dapt menyelesaikan tugas-tugas kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Menjadi istri dan ibu bisa sungguh menyenangkan, tapi sekaligus kadang
membuat kita sedikit “lelah”. Pekerjaan yang melekat 24 jam dalam setiap hari
kehidupan seorang perempuan. Berhubungan dengan suami dan anak adalah pekerjaan
tak berbatas, yang tak selalu “baik-baik saja”.
Berbeda dengan pekerjaan seperti di kantor-kantor. Ketika kita tak mampu
lagi, maka keluar dari pekerjaan adalah pilihan yang bisa dilakukan. Rumah tangga
tak bisa semudah itu. Walaupun ada pilihan untuk itu.
-o-
Untuk itu, kita harus sering memperbaharui niat kita. Agar rumah tangga
dapat terus berjalan sampai akhir nanti. Niat ketika pertama kali kita
melangkahkan kaki untuk menikah. Semua bermula dari niat tersebut. Ketika pada
pertengahan jalan ada yang tak sesuai, maka segera kembali dan perbaharui niat
kita.
Tak hanya niat, semua perjalanan hidup sejatinya bersandar pada dua hal,
yaitu bersyukur dan bersabar. Demikian pula dalam rumah tangga. Belajar untuk bisa
selalu bersyukur dan bisa bersabar harus selalu ditumbuhkan.
Banyak-banyak bersyukur dengan segala kebaikan dan ‘ketidakbaikkan’ yang
kita dapatkan. Bersyukur dapat membawa kita pada kebahagiaan-kebahagiaan hati
yang kadang tak terlihat kasat mata. Tapi sekali lagi, ini bukan hal yang
mudah, sehingga kita memang harus belajar untuk membiasakannya.
Bersabar ternyata lebih sulit daripada bersyukur. Karena biasanya bersabar
berhubungan dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Hal-hal yang yang ingin kita
hindari dan jauhi. Tapi berusalah untuk bersabar dan yang terpenting adalah
berdoa. Berdoa memohon diberi kesabaran, karena hanya Allah pemilik sabar.
Pada akhirnya, perempuan sebagai ibu rumah tangga harus menjadi seorang
perempuan yang berilmu, berpendidikan. Tak hanya berhenti ketika ia menikah. Belajar
adalah pekerjaan seumur hidup. Ia harus tetap belajar dan belajar agar menjadi
jalan kemudahan dalam menjalani tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga.
Tak ada balasan terbaik dari menjadi ibu rumah tangga selain balasan pahala
dari Allah Swt. Tetap semangat menjadi seorang ibu rumah tangga!
Denpasar, 22 Juni 2020
MasyaAllahh, bagus bu. Untuk bekal kedepan bagi yang belum menjadi istri, dan menjadi ibu
ReplyDeleteIni hanya sebagai salah satu wacana saja kak. Bekal terbaik adalah terap belajar. Terima kasih utk jejaknya 🙏
DeleteMenarik sekali tulisannya
ReplyDeleteMakasi kak.
DeleteBerumah tangga pun butuh ilmu ya bu, dan harus siap dengan ketidak baikan di dalamnya, makasi bu, saya jadi belajar memahami arti nya rumah tangga hehe :)
ReplyDelete