Monday, June 22, 2020

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Bukan Pilihan


Awal mula seorang perempuan adalah anak. Ketika ada seorang lelaki yang menikahinya, maka bertambahlah sebuah tugas hidupnya, menjadi seorang istri. Sampai suatu ketika seorang anak lahir darinya, bertambah lagi tugasnya menjadi seorang ibu. Menjadi anak, istri, sekaligus ibu adalah tugas mulia dan utama dari seorang perempuan.

Seorang perempuan yang bekerja dan berprofesi pun tak menghilangkan tugasnya sebagi seorang istri dan ibu. Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah tugas alamiah (sunnatullah) dari seorang perempuan. Tak peduli siapapun dia atau apapun pekerjaannya. Ia adalah sebuah kewajiban, bukan lagi sebuah pilihan.

Ibu rumah tangga telah menjadi sebuah profesi tak bergaji. Diperlukan tak sedikit ketrampilan dan kepandaian dalam melakukannya. Keberlangsungan sebuah keluarga, sedikit banyak sangat tergantung pada kepiawaian seorang ibu rumah tangga mengelolanya.

Sebegitu penting dan mulianya tugas itu, maka penting bagi anak perempuan untuk mendapat pendidikan. Pendidikan yang akan memberinya ruang dan waktu untuk bertumbuh menjadi perempuan yang siap menjalankan tugas besar dan mulianya.

Pendidikan yang paling tidak memberinya kesempatan seluas-luasnya untuk belajar. Belajar banyak hal, meskipun tidak harus dalam bentuk pendidikan formal di dalam gedung dan berserifikat. Tidak harus.

Pendidikan itu penting bagi perempuan karena akan memberi semacam bekal baginya kelak untuk menjalankan tugasnya sebagi istri dan ibu. Mungkin bukan bekal keilmuan, tapi yang terpenting adalah bekal ‘kesiapan’nya dalam menghadapi tugas kehidupan ke depannya.

-o-

Pada kenyataannya, menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga di zaman sekarang, bukanlah hal yang mudah. Terutama sebagi ibu. Berbagai macam permasalahan akan menghadang. Tak hanya masalah di luar rumah yang memang sudah cukup membuat kita waspada. Masalah seringnya justru muncul di dalam rumah tangga itu sendiri.

Mendidik anak tak cuma masalah membesarkan dan menjadikannya sehat. Mendidik adalah sebuah proses nan tak henti yang dilakukan oleh seorang ibu pada anak-anaknya. Mendidik adalah proses yang dilakukan oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang dinamis. Proses yang dilakukan dari manusia ke manusia. Ibu adalah seorang manusia, pun anak.

Hal itu akan memicu banyak terjadi konflik, yang bahkan kita tidak pernah duga sebelumnya. Aksi dan reaksi yang tak sesuai teori, dapat memancing beragam emosi yang kadang tak terkendali.
Begitu juga menjadi seorang istri. Tak pernah ada cerita yang mudah dalam membina sebuah rumah tangga. Ia adalah proses yang berjalan naik dan turun. Bahkan hingga akhir cerita nanti.

Ada yang berlanjut baik-baik saja sampai akhir, tapi tak sedikit yang berhenti di tengah jalan. Banyak dan beragam penyebabnya. Ada yang terukur dan ada yang tidak. Ada yang masih dalam kendali manusia dan ada yang tidak.

Seperti itulah kenyataannya. Tak ada yang dijalankan dengan mudah. Kita hanya manusia-manusia yang terus bergerak, menciptakan usaha. Manusia yang tak ingin berhenti di tengah jalan begitu saja. Manusia yang berusaha, berikhtiar untuk dapt menyelesaikan tugas-tugas kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Menjadi istri dan ibu bisa sungguh menyenangkan, tapi sekaligus kadang membuat kita sedikit “lelah”. Pekerjaan yang melekat 24 jam dalam setiap hari kehidupan seorang perempuan. Berhubungan dengan suami dan anak adalah pekerjaan tak berbatas, yang tak selalu “baik-baik saja”.

Berbeda dengan pekerjaan seperti di kantor-kantor. Ketika kita tak mampu lagi, maka keluar dari pekerjaan adalah pilihan yang bisa dilakukan. Rumah tangga tak bisa semudah itu. Walaupun ada pilihan untuk itu.

                                                                               -o-

Untuk itu, kita harus sering memperbaharui niat kita. Agar rumah tangga dapat terus berjalan sampai akhir nanti. Niat ketika pertama kali kita melangkahkan kaki untuk menikah. Semua bermula dari niat tersebut. Ketika pada pertengahan jalan ada yang tak sesuai, maka segera kembali dan perbaharui niat kita.

Tak hanya niat, semua perjalanan hidup sejatinya bersandar pada dua hal, yaitu bersyukur dan bersabar. Demikian pula dalam rumah tangga. Belajar untuk bisa selalu bersyukur dan bisa bersabar harus selalu ditumbuhkan.

Banyak-banyak bersyukur dengan segala kebaikan dan ‘ketidakbaikkan’ yang kita dapatkan. Bersyukur dapat membawa kita pada kebahagiaan-kebahagiaan hati yang kadang tak terlihat kasat mata. Tapi sekali lagi, ini bukan hal yang mudah, sehingga kita memang harus belajar untuk membiasakannya.

Bersabar ternyata lebih sulit daripada bersyukur. Karena biasanya bersabar berhubungan dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Hal-hal yang yang ingin kita hindari dan jauhi. Tapi berusalah untuk bersabar dan yang terpenting adalah berdoa. Berdoa memohon diberi kesabaran, karena hanya Allah pemilik sabar.

Pada akhirnya, perempuan sebagai ibu rumah tangga harus menjadi seorang perempuan yang berilmu, berpendidikan. Tak hanya berhenti ketika ia menikah. Belajar adalah pekerjaan seumur hidup. Ia harus tetap belajar dan belajar agar menjadi jalan kemudahan dalam menjalani tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga.

Tak ada balasan terbaik dari menjadi ibu rumah tangga selain balasan pahala dari Allah Swt. Tetap semangat menjadi seorang ibu rumah tangga!


Denpasar, 22 Juni 2020

5 comments:

  1. MasyaAllahh, bagus bu. Untuk bekal kedepan bagi yang belum menjadi istri, dan menjadi ibu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini hanya sebagai salah satu wacana saja kak. Bekal terbaik adalah terap belajar. Terima kasih utk jejaknya 🙏

      Delete
  2. Berumah tangga pun butuh ilmu ya bu, dan harus siap dengan ketidak baikan di dalamnya, makasi bu, saya jadi belajar memahami arti nya rumah tangga hehe :)

    ReplyDelete

Bersabar dan Bersyukur Saja

Alangkah mengagumkan keadan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang...